Gambar

Gambar
SELAMAT MEMBACA,HATAMUEI LINGGU NALANTAI HAPANGAJA KARENDEM MALEMPANG
Showing posts with label PANDEHEN. Show all posts
Showing posts with label PANDEHEN. Show all posts

22 July 2014

BAWI AYAH PENDIDIKAN LISAN DI ZAMAN KEDUA DAYAK



P
endidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu perubahan dalam hidup dan pergaulannya.  Pengertian pendidikan secara legalitas dapat dilihat di dalam Ketetapan Majelis Permusyawarahan Rakyat Rebuplik Indonesia Nomor II / MPR/ 1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Dalam GBHN tahun 1988, “pendidikan dibatasi sebagai proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia”(Daryanto, 1996).

Pendidikan dapat dilakukan seumur hidup dan dapat dilaksanakan  di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan merupakan serangkaian kegiatan yang ada di dalamnya dengan tujuan menciptakan manusia yang berkualitas dan berguna.

15 July 2014

BATANG GARING DAN PROSES KEHIDUPAN MANUSIA

Batang Garing dan Analogi Tubuh Manusia

B
atang Garing atau dalam bahasa Sangiang sering disebut Batang Haring yang entah mengapa berubah menjadi dari “H” menjadi “G” Garing mungkin dikarenakan dialek bahasa Dayak Ngaju dan jika diterjemahkah kedalam bahasa Indonesia (Pohon Kehidupan) mengapa disebut dengan pohon kehidupan? Karena Haring dalam bahasa Dayak Ngaju dimaksud adalah hidup, contoh Haring Jawau (Pohon singkong yang hidup begito saja), dll dan batang berarti pohon.

Batang garing pada awalnya tidak memiliki deskripsi seperti yang anda lihat saat ini dikarenakan Batang Garing hanya didengar dari tuturan para Basir/Pisor (rohaniawan Hindu Kaharingan) dalam memimpin ritual salah satunya adalah pada ritual Balaku Untung (memohon umur panjang), dalam ritual ini ada tiga leluhur sangiang yang pada akhirnya sampai di tahta (Balai) kuasa Ranying Hatalla dan Jatha Balawang Bulau yaitu Raja Tunggal Sangomang, Raja Mantir Mama Luhing Bungai dan Raja Lingga Rawing Tempun Telun dalam perjalanan tersebut maka Raja Tunggal Sangomang-lah yang menaiki Batang Garing atau disebut Batang Kayu Erang Tinggang. Kemudian dalam prosesi tersebut para Basir/Pisor mendeskripsikan Batang Garing baik dari Akar, Batang, Ranting, Daun, Bungga, Buah dari Pohon tersebut hal itulah yang sekarang kita lihat digambarkan kedalam bentuk sket Batang Garing yang dibuat dengan makna-makna dari apa yang disampaikan oleh para Basir/Pisor.

14 July 2014

HINDU KAHARINGAN JARANG BICARA TENTANG SORGA DAN NERAKA

Sorga dan Nereka Dalam Imaginasi Berbagai Agama

D
ua Dunia (dunia kehidupan dan setelah kehidupan)
Pada umumnya ada dua dunia yang menjadi tujuan agama, yaitu dunia kehidupan saat ini dan dunia setelah kehidupan atau dunia akhirat. Dunia kehidupan saat ini dalam kitab Suci Panaturan disebut Pantai Danum Kalunen, Luwuk Kampungan Bunu yaitu dunia atau alam kehidupan manusia saat ini, dunia ini juga diungkapkan sebagai lewu injam tingang rundung nasih nampui burung yaitu dunia fana yang sifatnya semantara saja dan tidak kekal dari kematian, ketika saatnya tiba maka setiap yang hidup di dunia ini akan pergi meninggalkan dunia dan segala yang dimilikinya selama hidup untuk selama – lamanya (mati).

12 July 2014

FLURALISME SEPERTI BERBAGAI MACAM BUNGA DI TAMAN


M
eninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pada akhir Desember 2009, bagaikan momentum sebuah perayaan atas pluralisme agama. Doa bersama oleh tokoh berbagai agama dilakukan baik di kediaman mendiang, maupun di tempat ibadah masing-masing, berbagai tulisan diterbitkan, buku tentang Gus Dur diluncurkan, seperti yang dilakukan di Pura Aditya Jaya Rawamangun, tanggal 8 Februari yang dihadiri oleh perwakilan keluarga, perwakilan majelis agama para sahabat yang memberikan testimoni, diikuti dengan doa bersama.
Penghormatan ini memang pantas. Karena jasanya yang besar untuk mengembangkan pluralisme agama di Indonesia, yang dilakukannya secara konsisten sejak muda, melalui tulisan-tulisannya di media masa, dialog yang dilakukannya ketika menjadi ketua umum PBNU, dan keputusan yang diambilnya ketika menjadi Presiden, yang paling fenomenal adalah pengakuannya terhadap agama Konghucu dan diperbolehkannya perayaan Imlek. Gus Dur juga sering datang ke pura dan ashram di Bali dan ikut sembahyang dan bhajan.

BERDO'A DALAM HINDU KAHARINGAN


B
erdo’a merupakan salah satu cara berhubungan dengan kekuatan yang Maha Agung (Ranying Hatalla) Tuhan Yang Maha Esa, berdo’a sejauh yang dipraktekkan sekarang oleh Umat Hindu Kaharingan dengan dua cara yaitu dengan media dan atau tanpa media.
Berdo’a dengan media adalah berdo’a mengunakan bahan seperti beras atau dalam Bahasa Sangiang disebut Behas Manyangen Tingang dalam prosesi ini sebagian besar digunakan oleh Rohaniawan seperti Handepang Telun, Basir, Pisor,dll walaupun tidak menutupi kemungkinan siapapun bisa melakukanya sesuai dengan tingkat dan kemampuannya.

Bedo’a dengan tanpa media dimaksud adalah tanpa mengunakan media beras, dll. Berdo’a dengan mengunakan hakikat dari suara dan permohonan yang tulus. Berdo’a model ini adalah mengerakan roh suara dari dalam diri kita sendiri yang disebut Bahing Timang (roh penguasa suara), Perjalanan Bahing Timang yang dikeluarkan oleh sang pendo’a di-ibaratkan sebuah perjalanan seorang tukang pos yang yang menyampaikan surat dari pengirim pesan kepada penerima pesan, agar tukang pos tersebut dapat menjalankan tugas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan begito juga dalam melakukan do’a dalam kepercayaan Hindu Kaharingan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, karena sesungguh pesan yang disampaikan adalah pesan yang suci. Diantara hal-hal tersebut diatas yaitu diantaranya kata awal, atau kata pembuka dapat berbentuk ehem, iiiii, inanjuri, karena dalam sabdhanya Ranying Hatalla kata ehem, iiiii, inanjuri adalah kata yang berbentuk huruf hidup sehingga segala sesuatu didalam diri manusia di bangunkan untuk menyampai pesan yang baik.

07 July 2014

HINDU KAHARINGAN BAGAI MADU DAN RACUN


T
eman-teman yang selalu dalam lindungan dan dianugerahi oleh Ranying Hatala, pada waktu yang berbahagia ini saya secara pribadi ingin mempersembahkan sebuah tulisan sebagai bentuk ungkapan kecintaan pribadi akan Hindu Kaharingan.

Tulisan ini saya beri judul Madu dan Racun yang sesungguh terinpirasi dari sebuah buku yang pernah dibaca, sekiranya jika ada penulisan yang tidak berkenan berharap penuh itu tidak diambil sebagai sebuah serangan tetapi ini adalah buah pemikiran yang tentulah jauh dari kesempurnaan.

Teman-teman dan saudara-saudara tercinta yang selalu dalam lindungan Ranying Hatala sudah tentu ajaran Kaharingan (dulunya tidak memiliki nama/berbagai sebutan/anonim) adalah ajaran yang diturunkan dari Langit dan semua pemeluknnya percaya akan hal itu, semua dicontoh dan di ajarkan kepada leluhur bahkan sebelum mereka turun dari Khayangan/ Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Kereng Angkar Bantilung Nyaring tentu kita tidak memaksa semua orang untuk percaya dengan hal tersebut!. Walaupun pada realitanya semua ajaran agama juga berpikir sama bahwa manusia yang pertama berasal dari langit, pada kesempatan ini penulis membatas diri (karena penulisan ini bukan penulisan Histori) untuk mulai membahas Ajaran Kaharingan (dulunya tidak memiliki nama/berbagai sebutan/anonim) sejak perpindahan penduduk Yunan dari Cina Selatan yang diperkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi) yang menjadi suku Dayak jika demikian maka sejak itulah ajaran leluhurku yang murni dan maha suci ini ada, “jika kita berpandangan dengan kerangka ilmiah yang masih diterima oleh beberapa ilmuwan”, beribu-ribu tahun lamanya sebelum adanya ajaran-ajaran baru yang masuk dan datang kepulau Borneo atau bahkan hidup dan berkembang diseluruh penjuru dunia, setelah melihat usia tersebut beberapa pertanyaan mungkin muncul dalam benak kita.

03 July 2014

RAJA BUNU MANUSIA PERTAMA DALAM PANDANGAN MASYARAKAT DAYAK



S
udah miliaran tahun bahkan lebih bumi ini ada, banyak orang ingin tahu tentang bagaimana proses dan siapa yang pertama menjadi penghuninya, telah banyak pula teori-teori dan pakar-pakar ilmiah mencari tau, begitu juga kitab-kitab agama di dunia ikut memaparkan hal tersebut. Lalu, bagaimana pandangan ajaran Hindu Kaharingan di dalam pustaka sucinnya?
 Banyak orang membicarakan tentang awal siapa yang menjadi penghuni pertama bumi yang maha luas ini, para ahli berusaha meneliti secara ilmiah dari manakah semua itu berasal. Ada berbagai versi dan jawaban yang dikemukan di sana, bahkan seorang ahli (Charles Darwin) menyatakan bahwa manusia adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang evolusi dari binatang kera, selain para ilmuwan yang mencari dasar dari sudut pandang ilmiah, banyak juga berbagai macam kitab suci dari berbagai agama di dunia memaparkan tentang siapa yang pertama ada dan menghuni bumi ini, di antara agama-agama tersebut yang sudah dikenal oleh khalayak banyak adalah konsep menurut keyakinan Kristen dan Islam yang menyatakan bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa, kedua orang inilah yang diyakini sebagai cikal bakal manusia di bumi ini. Namun Hindu Kaharingan punya doktrin lain yang berbeda tentang konsep atau proses munculnya manusia serta siapa yang merupakan cikal bakal umat manusia di bumi.

02 July 2014

GARING HATUNGKU TUNGKET LANGIT TIGA KERANGKA HIDUP UMAT HINDU KAHARINGAN


Batang Haring/Garing (Pohon Kehidupan)

B
anyak orang didunia ini berusaha dan bekerja keras membagi waktunya sedemikian rupa agar kehidupannya kelak menjadi lebih baik, hal itu bukan sesuatu yang asing dan memang begitu adanya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah ada cara dalam ajaran Hindu Karingan agar kelak kehidupan kita menjadi lebih baik dan sukses?.

Jawabnya; Ia, Ada. Lalu Bagaimanakah itu?

Dimasyarakat santar terdengar kalau mau kaya/beruang maka kita harus bersahur dengan Sangomang, hal demikian memang ia ada benarnya, namun sisi lain yang kadang terlupakan oleh kita adalah apa makna dari ucapan tersebut dan bagaimana aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu Kaharingan.

08 June 2011

PEMAKNAAN AUH LUNAS MUJAN BALAI/AYAT-AYAT MUJAN BALAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA


D
alam melakukan kegiatan balian para Basir (Pemimpin Ritual) melakuan nyanyian suci yang disebut Lunas Balian, setiap munduk balian para Basir melakukan lunas ditemani dengan alat musik Katambung (alat musik tabuh) prosesi melakukan lunas cukup panjang mulai dari Narinjet dan Nantilang Liau sampai dengan Lunas Pambuli Sangiang. Demikian dibawah ini kita akan mendengar pengelan Lunas/Tuturan ayat Balian Mujan Balai dalam prosesi ritual Balian, perlu dijelaskan bahwa Mujan Balai adalah suatu prosesi dimana balian menjelaskan bahwa beras yang mereka jadikan media penghubung antara para balian dengan Sangiang Tarantang Garu (leluhur yang menjadi sahur para basir), seperti demikian dibawah ini;

“Gemerincing suara tawur menghujani seluruh ruang balai, bagaikan suara jala terlepas dari gantungannya”


“Tawur turun dan tiba diantara para sangiang yang sedang duduk berkumpul didalam ruangan balai tua pimpinan”

“Dengan kehadiran tawur diantara merekapun jadi gemetar dan mereka merasa kaget”

“Tawur berada diantara para sangiang, ditengah kelompok anak-anak, dewasa dan orang-orang”

“Mereka bertanya pada dirinya; mengapa badanku terasa gemetar binggung dan kaget?”

“Dikira dandang tingang terlepas jatuh dari ujung Sampulau Dare yang kupasang disisi Lawung, kenyataanya bukan demikian.”

“Dikira kalung emasku terlepas putus talinya yang baru saja dibuat tadi, juga bukan demikian”

“Serentak sangiang melihat diatas tikar, maka terlihatlah oleh mereka ada perjalanan tawur baru tiba”

“Barebutan sangiang duduk sama-sama ingin mengenal tawur, bagaikan burung tinggang berebut makan buah beringin”

“Saya menyebutnya tawur dari orang yang saat berjalan dihutan, akan tetapi Tawur ini tidak ada bercampur ricihan daun-daunan”

“Saya menyebutnya tawur dari orang yang melakukan perdamaian, akan tetapi Tawur ini tidak ada bercampur curia emas dari cincin emas”

“Saya menyebutnya tawur dari orang yang melakukan upaca pemandian suci pemberian nama, akan tetapi Tawur ini tidak ada bercampur mayang pinang, dan selanjutnya ayat 31,32,33,34,35,36 dan selanjutnya ayat 44”

“Mereka dengan serempak bersama-sama mengumpul Beras Tawur, kemudian menyimpan dan mengumpulnya Beras Tawur, kemudian menyimpannya memenuhi Garing Lalunjung Pulang”

Walaupun sesungguhnya Lunas Mujab Balai adalah bagian dari prosesi balian dan bagian dari ritual tetapi kita bisa mengambil sedikit makna untuk kehidupan kita sehari-hari, yaitu dalam proses menjalani hidup di dunia ini, ada beberapa hal yang menarik yang perlu dilihat untuk hal itu diantaranya

Disini telihat jelas ada sesuatu yang baru datang (Beras Tawur) yang terlihat sebagai benda asing pada saat itu, ketika adanya sesuatu yang asing maka akan adanya tanda-tanda dari dalam tubuh/pikiran atas hal yang baru tersebut dan akan memunculkan sebuah RESPON terlihat dari lunas balian diatas “Dengan kehadiran tawur diantara merekapun jadi gemetar dan mereka merasa kaget.”Adapun respon terhadap sesuatu yang baru datang (Beras Tawur)  maka yang terjadi adalah SEBUAH PERTANYAAN? dari pertanyaan ini maka akan muncul yang namanya HIPOTESIS jawaban sementara/ pandangan kasarnya tersebut terlihat dari frasa-frasa dari lunas “Mereka bertanya pada dirinya; mengapa badanku terasa gemetar binggung dan kaget?” Respon yang pertama dari SISTEM/PROSES didalam frasa-frasa ayat diatas adalah sebagai mana berikut “Dikira dandang tingang terlepas jatuh dari ujung Sampulau Dare yang kupasang disisi Lawung, kenyataanya bukan demikian.” Hal ini menunjukkan respon pertama yang dilakukan adalah melihat KEDALAM DIRI SENDIRI bukan MELIHAT KELUAR sampai melihat kedalam menjadi tuntas maka akan terjadi sebuah kesimpulan tertutup yang pasti YA dan TIDAK terlihat dari frasa-frasa lunas muja yang demikian “kenyataanya bukan demikian” maka barulah demikian Kita MELIHAT KELUAR Ketika kita melihat keluar maka akan lebih rumit karena HARUS DIANALISA coba kita lihat dari frasa-frasa “Saya menyebutnya tawur dari orang yang saat berjalan dihutan, akan tetapi Tawur ini tidak ada bercampur ricihan daun-daunan dan Saya menyebutnya tawur dari orang yang melakukan perdamaian, akan tetapi Tawur ini tidak ada bercampur curia emas dari cincin emas” mungkin disini ada yang.

Mempelajari filsafat yang lebih dalam!! Reoni dengan pengetahuan yang saya dulu pernah diajari untuk hal tentang Premis Mayor// Premis Monir// Kesimpulan serta KEKELIRUAN-KELIRUANNYA hal ini ditunjukkan juga dalam frasa-frasa ini tanpa kita harus melihat dimana kekeliruaanya untuk menganalisa dan suatu pola pikir yang terstruktur. Dalam suatu system ada sebuah TIM dalam TIM yang perlu diingat!!! adalah bukan berapa banyak orang hebatnya tetapi bagaimana kita melihat orang yang paling LEMAH dalam TIM tersebut serta sekecil apapun celah itu harus kita perhatikan, coba kita lihat analogi ini pada sebuah RANTAI jenis apapun yang saling menyambung, jika dalam sambungan tersebut dicoba untuk ditari dari satu ujung ke ujung lainnya maka pada daerah rantai-rantai yang paling kuat tidak perlu kita khawatirkan untuk terjadi putus tetapi pada rantai yang lemah dan rapuh itu yang sangat kita khawatirkan dan potensial besar untuk putus coba kita berkaca dari frasa-frasa “Mereka dengan serempak bersama-sama mengumpul Beras Tawur, kemudian menyimpan dan mengumpulnya Beras Tawur, kemudian menyimpannya memenuhi Garing Lalunjung Pulang dan yang lebihnya disimpan didalam SANGKU”.***

RAJA SANGEN, RAJA SANGIANG DAN RAJA BUNU DIANUGRAHI GAJAH BAKAPEK BULAU, UNTA HAJARAN TANDANG BARIKUR HINTAN


Kutipan dari Ayat-Ayat tersebut :
15.Dari jauh sudah terlihat oleh mereka bertiga ada cahaya, yaitu cahaya Gajah Bakapek Bulau, sinar Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan, sangat besar sekali kelihatannya
16.Begitu mereka bertiga tiba, mereka berlari saling mendahului menuju Gajah Bakapek Bulau, Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan, dan ternyata mereka bersama tiba dan langsung memegangnya
17.Mereka bertiga saling berebutan tarik-menarik, seraya berkata, kata Raja Sangen: Saya yang punya, kata Raja Sangiang: saya yang punya, begitu pula kata Raja Bunu dia yang punya, sahingga gemuruh sekali suara mereka bertiga berebutan
19.Setiba diBukit Engkan Penyang, Manyamei Tunggul Garing Janjuhunan Laut berkata : Haii anak-anakk kalian bertiga, jangan berebutan Gajah Bakapek Bulau, Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan ini, lebih baik kalian bertiga sama-sama memilikinya sama-sama pula memeliharanya
20.Maka berkata Raja Sangen menjawab kata-kata ayahnya: Saya yang punya,sebab saya yang paling dahulu memelihatnya
21.Tidak demikian, kata Raja Sangiang menjawab kata-kata saudaranya Raja Sangen saya ini yang mempunyainya sebab saya yang paling dahulu melihatnya dan paling dahulu pula tiba
22.Kata Raja Bunu, menjawab perkataan kedua saudaranya: saya yang mempunyainya, sebab saya paling dahulu melihatnya dan saya juga yang paling dahulu memegannya
23.Marah sekali Raja Sangen mendengar perkataan kedua saudaranya tersebut, ia langsung menghunus Duhung Papan Bentengnya dan menikam Gajah Bakapek Bulau, Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan

Mari kita bercermin kedalam ayat-ayat Panaturan tersebut diatas kemudian kita melihat kembali kronologis yang terjadi pada ketiga anak Manyamei Tunggul Garing Janjuhanan laut dan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun dimana mereka menemukan sebuah obyek TUNGGAL (Gajah bakapek Bulau, Untah Hajaran Tandan) dimana mereka sebagai objek kedua adalah 3 (bertiga) orang dimana objek kedua melebihi dari jumlah objek pertama letak permasalahannya bukanlah pada jumlah subjek yang melebihi jumlah objek tetapi terletak pada kata INGGIN MEMILIKI SUATU OBJEK YANG TUNGGAL itu adalah hal pertama yang dapat kita tarik.
Pada cerita berikutnya dalam ayat-ayat PANATURAN diatas terjadi KEKELIRUAN MEREKA PADA beberapa frasa-frasa ini :
Raja Sangen menjawab kata-kata ayahnya: Saya yang punya, sebab saya yang paling dahulu MELIHATNYA
Raja Sanggiang menjawab ; sebab saya paling dahulu MELIHATNYA dan saya juga yang paling dahulu MEMEGANGNYA
Raja Bunu menjawab ; saya yang paling dahulu MELIHATNYA dan paling dahulu pula TIBA
Hal ini menunjukan mereka telah dikelirukan oleh INDRIA-INDRIA dalam DIRI MEREKA sehingga akan terjadi hal pada cerita dibawah ini: Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,  "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." Namun lebih celakanya pada cerita diatas adalah ketika mereka memperbutkan suatu objek tiba-tiba ada suatu TINGKAH LAKU (PSIKOMOTOR)//GERAK TUBUH YANG KEMUDIAN DILAKUKAN RAJA SANGEN adalah MENGHUNUS DOHONG PAPAN BENTENG PADA objek (Gajah bakapek Bulau, Untah Hajaran Tandan) yang diperebutkan.
Pada beberapa frasa-frasa//Kemudian ditemukan ada orang ketiga dari kedua objek seperti dalam kutipan ayat ini//Manyamei Tunggul Garing Janjuhunan Laut berkata : Haii anak-anakk kalian bertiga, jangan berebutan Gajah Bakapek Bulau, Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan ini, lebih baik kalian bertiga sama-sama memilikinya sama-sama pula memeliharanya// dimana orang ketiga dalam ayat ini memberikan jalan WIN-WIN SOLUTION (ma”af tulisan gawur//maklum kemampuan bahasa yang kurang….hehe3) tetapi hal itu sangat TAMPAK TERASINGKAN karena obyek 2 (kedua) unsur indrianya telah ditutupi oleh unsur lain. Bila manusia dilihat dan dikaitkan unsur-unsur api adalah darah,dst (menurut pandangan beberapa orang) maka akan terlihat betul hal ini memang bisa terjadi.
Dari hal ini dapat ditarik sebuah kesimpulan singkatnya:
1.Jika ada suatu objek ingin memiliki objek lain yang tunggal, dimana objek yang ingin memiliki melebihi objek yang ingin dimiliki maka akan terjadi sebuah KONFLIK sebuah KONFLIK tidak akan menjadi masalah jika TIDAK ADA PSIKOMOTOR yang EXTRIM dimana jika dirunut Psikomotor yang EXL dimulai dari tertutupnya INDRIA.
2.Ketika ada sebuah Konflik maka objek lain sebagai orang Ketiga sering dilupakan tanpa melihat PERTIMBANGAN akan WIN-WIN SOLUTION
3. SUMBER DASAR dari semua ini adalah PANCA INDRA